Waw Modal Awal Kepiting Nyinyir Cuma 3 Juta
Berawal dari keinginannya
memiliki impian berbisnis kuliner namun tidak memiliki modal yang cukup besar Gilang
bersama temannya Rachman Abdul Rachim mengawali bisnisn Kepiting Nyinyir dengan
bermodal Rp 3 juta. Sebesar Rp 2 juta untuk taste food (beli bahan
baku dan bumbu). Sisanya, Rp 1 juta dibelikan perlengkapan masak. Awalnya,
hanya satu menu, yaitu kepiting saus padang.
Setelah
didapat rasa yang pas, bisnis pun berjalan. Saat itu, hanya dua hari berjualan,
kata Gilang, sudah balik modal. Pembeli awal datang dari hasil postingan
teman-temannya di media sosial.
Di
bisnis kuliner, menurut Gilang perlu diversifikasi rasa mengikuti minat pasar.
Sehingga, sekarang ada enam varian menu, yang berisi paduan kepiting, kerang,
cumi dan baby
octopus. Pilihan saus pun kini lebih variatif, selain saus padang,
ada saus tiram dan saus lada hitam. Harga jual menu dibanderol mulai dari Rp
145.000 hingga Rp 275.000.
Dia
mengakui, margin dari bisnis ini sangat gemuk, karena investasi rendah. Untuk
dapur produksi memang perlu sewa tempat. Sebab, kini dia membuka empat dapur.
Tapi, biaya sewa tidak sebesar ongkos sewa ruko untuk resto atau gerai.
Total
ada 55 karyawan yang dipekerjakan, yang mayoritas ibu-ibu sebagai koki. Di sisi
lain, Gilang tidak perlu membayar pelayan plus seragam seperti di restoran.
Biaya listrik rata-rata Rp 500.000 per satu dapur.
Memang,
ada modal cukup besar untuk beli freezer. Tapi, itu pun bergulir perlahan
seiring membesarnya skala usaha. Sekarang, saban hari, Kepiting Nyinyir
mengolah 2-3 koli atau setara 60 kilogram kepiting. Lalu, kebutuhan kerang dan
seafood lainnya sekitar 100 kg sehari.
Gilang
mengaku, rata-rata omzet satu dapur mencapai Rp 300 juta sebulan.
Pengalaman
selama lima tahun bisnis berjalan, dia bilang, yang harus selalu dijaga adalah
konsistensi rasa. Untuk itu, bumbu sudah diracik dalam bentuk pasta.
Tantangan
lain adalah Indonesia gampang ganti tren makanan. “Jadi, setiap hari harus
mikirin yg dilakukan sudah benar atau belum, bagaimana soscial
engagement di media sosial untuk menjaga produk kita tetap ada
di top
mind konsumen,” beber pria 30 tahun ini.
Menurut
Gilang, menjaga komunitas konsumen ini wajib dilakukan. Karena tidak bisa hanya
mengandalkan jualan dari market place dan
Grab/Gojek. Sehingga, ada anggaran khusus untuk mengelola media sosial
mereka.
Di
samping itu, sosial media itu realtime, bisa berubah
setiap saat. Perkembangan informasi di medsos wajib dipantau karena itulah yang
dijadikan patokan untuk membuat promosi harga sewaktu-waktu. Jadi, Kepiting
Nyinyir tidak punya kalender promo.
Saran
Gilang, bagi pemula di bisnis seafood, jangan baperan alias harus tahan
banting, Meski sepi atau ramai, harus tetap dijalani. Lalu, harus pandai
menjaga rating,
karena menjadi acuan konsumen untuk beli.
Selengkapnya yuk tonton video di bawah ini.
Komentar
Posting Komentar